Scrum: Kerangka Kerja Agile terpopuler

Foto wajah kontributor Julia MartinsJulia Martins
1 Februari 2025
8 menit baca
facebookx-twitterlinkedin
Scrum: The most popular Agile framework article banner image
Cek Templat
Tonton demo

Ringkasan

Proses Scrum adalah metode Agile populer yang memungkinkan tim untuk fokus pada peningkatan berkelanjutan sembari membangun dan melakukan iterasi dengan cepat. Teruslah membaca saat kami menelaah tentang Scrum, cara kerjanya, dan cara Scrum dapat bermanfaat bagi setiap tingkat organisasi Anda.

Jika Anda bekerja di atau berhubungan dengan tim produk, teknik, atau pengembangan perangkat lunak, Anda mungkin pernah mendengar istilah Scrum sebelumnya. Scrum adalah Kerangka Kerja yang dirancang untuk tim yang membangun dan melakukan iterasi dengan cepat. Menerapkan proses Scrum dapat membantu Anda bekerja sama untuk memecahkan masalah yang kompleks. 

Meskipun Anda bukan bagian dari tim produk, teknis, atau pengembangan perangkat lunak, Anda masih bisa mendapatkan manfaat dari Scrum. Dalam artikel ini, kami akan membahas semua hal yang perlu Anda ketahui tentang Scrum, termasuk definisi dan manfaatnya. Jika Anda menggunakan Scrum untuk pertama kalinya, mulailah dengan templat Scrum untuk mengatur sprint dan memvisualisasikan pekerjaan di seluruh tim.

Apa itu Scrum?

Scrum adalah kerangka kerja Agile yang membantu tim berkolaborasi dan menyelesaikan pekerjaan berdampak tinggi. Kerangka Kerja Scrum memberikan garis besar tentang nilai, peran, dan pedoman untuk membantu tim fokus pada iterasi dan peningkatan berkelanjutan.

Alur Kerja Scrum membagi proyek besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang dapat dikerjakan tim dengan cepat dan berulang. Karena proses Scrum dibangun berdasarkan proses itu sendiri dan mendorong pengulangan berulang, Anda dapat menggunakan Scrum untuk terus meningkatkan hasil akhir sampai seluruh proyek selesai. 

Kelola tim Agile dengan Asana

Sejarah Scrum

"Scrum" yang ada saat ini pertama kali diperkenalkan dalam artikel Harvard Business Review, "The New New Product Development Game", pada tahun 1986 oleh Hirotaka Takeuchi dan Ikujiro Nonaka. Takeuchi dan Nonaka mengambil istilah "Scrum" dari olahraga rugby. Mereka menjelaskan bahwa "seperti dalam rugby, bola dioper dari satu anggota ke anggota lainnya selagi mereka bergerak bersama-sama di lapangan."

Kemudian Scrum dikembangkan dan didefinisikan lebih lanjut oleh Ken Schwaber dan Jeff Sutherland pada tahun 1995 dalam publikasi mereka, Agile Manifesto dan SCRUM Development Process.

Scrum Schwaber dan Sutherland sebagian merupakan penolakan terhadap model pengembangan perangkat lunak waterfall. Dalam model waterfall, proyek dipecah menjadi fase berurutan, di mana setiap hasil akhir fase membuka fase pekerjaan berikutnya. Schwaber dan Sutherland yakin bahwa para developer perangkat lunak dapat memanfaatkan pendekatan iteratif yang lebih fleksibel dan memungkinkan mereka untuk terus menanggapi serta beradaptasi dengan keadaaan. Jadi, mereka dapat membuat produk terbaik bagi pelanggan.

Sejak publikasi awal, Schwaber dan Sutherland sudah menerbitkan Panduan Scrum, yakni dokumen dinamis yang diperbarui secara berkala. Menurut Panduan Scrum, Scrum mendorong "tim melihat seberapa efektif teknik kerja mereka dan meminta tim untuk terus mengembangkan serta meningkatkannya."

Cara kerja proses Scrum

Biasanya, Scrum dijalankan berdasarkan sprint, yakni sesi kerja yang biasanya berlangsung selama dua minggu dengan hasil akhir spesifik di akhir. 

Terdapat dua acara Scrum tambahan:

  • Rapat standup harian. Sesuai namanya, rapat standup harian diadakan sekali sehari. Ini kesempatan bagi Tim Scrum untuk berdiskusi selama 15 menit dan mengoordinasikan aktivitas harian. 

  • Retrospektif sprint. Ini diadakan setelah sprint selesai. Selama retrospektif sprint, yang akan dipimpin oleh master Scrum, tim memiliki kesempatan untuk merefleksikan sprint mereka dan membuat penyesuaian untuk sprint berikutnya.

Hal terpenting yang perlu diketahui jika Anda akan menjalankan proses Scrum adalah Kerangka Kerja Scrum didasarkan pada sistem peningkatan berkelanjutan. Di Scrum, Anda menyadari bahwa Anda mungkin tidak mengetahui segala sesuatunya di awal sprint. Lalu, Anda dapat menyesuaikan proses dan kebutuhan seperlunya berdasarkan informasi yang diperoleh selama proses sprint.

[ilustrasi sebaris] Cara kerja proses Scrum (infografis)

Acara Scrum

Acara atau upacara Scrum adalah elemen berulang dari setiap sprint. Setiap acara memiliki tujuan tertentu untuk memastikan sprint terstruktur dan produktif. 

1. Atur Backlog Anda. Untuk memulai sprint Scrum, pemimpin tim akan mengidentifikasi pekerjaan yang harus diambil dari backlog produk, yaitu pekerjaan yang perlu diselesaikan. Untuk menjalankan sprint Scrum sebaik mungkin, pastikan backlog produk Anda didokumentasikan dengan jelas di satu tempat. Pertimbangkan untuk menggunakan alat manajemen proyek untuk menata semua informasi ini.

2. Adakan sesi perencanaan sprint. Sebelum memulai sprint Scrum, Anda harus tahu hal yang ingin difokuskan dan alasannya. Pada tahap ini, Anda akan menentukan gol sprint dan menyampaikan kepada tim alasan sprint itu penting bagi pemangku kepentingan. Dari sana, Anda akan menentukan tugas backlog sprint yang akan ditangani selama sprint Scrum spesifik ini dan cara menyelesaikan pekerjaan.  Untuk memulai, coba templat perencanaan sprint gratis kami.

3. Mulai sprint Scrum Anda. Biasanya, sprint berlangsung selama dua minggu, meskipun Anda dapat melakukan sprint yang lebih pendek atau lebih lama tergantung yang paling cocok dengan Tim. Selama sprint, tim akan mengerjakan item dari backlog yang telah diuraikan selama sesi perencanaan sprint.

[ui produk lama] sprint teknik 26 (papan)

4. Adakan rapat standup Scrum harian. Jadwalkan pertemuan dengan Tim Scrum selama 15 menit setiap harinya. Rapat standup harian adalah kesempatan Anda untuk menjelaskan secara singkat tentang hal yang sedang dikerjakan dan memilah setiap hambatan tak terduga yang mungkin Anda temui. Untuk menjalankan rapat standup harian paling efektif, coba templat rapat standup harian gratis kami.

5. Presentasikan pekerjaan Anda selama Tinjauan sprint. Setelah menyelesaikan sprint Scrum, tim harus berkumpul untuk melakukan tinjauan sprint. Saat ini berlangsung, tim Scrum akan mempresentasikan pekerjaan yang “Selesai” untuk mendapatkan persetujuan atau tinjauan dari pemangku kepentingan.

6. Terhubung dan merefleksikan selama retrospektif sprint. Setelah sprint selesai, luangkan waktu untuk mendiskusikan hasil akhirnya dan hal yang dapat ditingkatkan ke depannya. Ingatlah bahwa Scrum didasarkan pada proses peningkatan berkelanjutan. Jadi, jangan takut untuk mencoba proses baru atau mengerjakan ulang strategi yang dirasa kurang efektif untuk sprint berikutnya. Coba templat retrospektif sprint gratis kami untuk memandu rapat Anda berikutnya.

Meskipun acara-acara ini mungkin tampak berulang, Anda harus menyertakannya dalam setiap sprint, terutama jika baru mengenal Scrum. Dengan melakukannya, Anda akan memastikan bahwa semua bagian memiliki pemahaman yang sama dan semua umpan balik telah ditangani. Acara ini dirancang untuk menjaga sprint berjalan cepat dan lancar. 

Artefak Scrum

Di Scrum, artefak merupakan sesuatu yang Anda buat, seperti alat untuk menyelesaikan masalah. Ada tiga artefak di Scrum: backlog produk, backlog sprint, dan peningkatan produk.

Backlog produk

Backlog produk adalah daftar utama pekerjaan yang perlu diselesaikan. Daftar ini harus dipilah oleh manajer proyek atau pemilik produk. Perhatikan, tidak semua item di backlog produk akan dikerjakan tim Anda. Lebih tepatnya, item di backlog produk hanyalah opsi yang dapat dikerjakan tim selama sprint Scrum. Pemilik proyek harus sering menyusun ulang dan memperbarui backlog produk, berdasarkan informasi baru dari pelanggan, pasar, atau tim proyek.

Backlog sprint

Backlog sprint merupakan serangkaian pekerjaan atau produk yang telah dilakukan tim Anda selama durasi sprint Scrum. Item ini dipilih dari backlog produk selama sesi perencanaan sprint, dan dipindahkan ke proyek perencanaan sprint tim jika ada.

Tim mungkin tidak menyerahkan semua yang ada di backlog selama setiap sprint, tetapi Anda mungkin akan menambah backlog sprint di tengah sprint. Jika Anda sering melakukannya, luangkan lebih banyak waktu dalam fase perencanaan sprint sehingga Anda memiliki gagasan konkret tentang hal yang akan dikerjakan selama sprint.

Kelola tim Agile dengan Asana

Peningkatan produk

Peningkatan produk merupakan hasil yang akan diserahkan di akhir sprint. Ini bisa berupa produk atau fitur baru, peningkatan atau perbaikan bug, atau apa pun tergantung pada tim. Rencanakan untuk mempresentasikan peningkatan selama Tinjauan sprint. Pada tahap ini, hasil itu akan dikirim atau tidak tergantung pada apa yang dipikirkan pemangku kepentingan Scrum tentang peningkatan tersebut dan apakah itu dianggap "Selesai".

Di Scrum, tidak ada yang sempurna, karena Tim Anda fleksibel dan meningkat secara iteratif. Jadi, "Selesai" tidak berarti "ini tidak bisa menjadi lebih baik", melainkan tim Scrum akan berhenti mengerjakannya untuk saat ini.

Misalnya, berikut beberapa definisi tentang "Selesai" untuk Tim Scrum yang berbeda:

  • Produk sudah siap untuk dirilis.

  • Produk telah diuji dan siap untuk dirilis dalam versi beta.

  • Produk telah lulus acceptance testing dan dapat dirilis ke semua pengguna.

Apa pun definisi tim tentang "Selesai", pastikan semua orang memiliki pemahaman yang sama. Setelah Anda mendefinisikannya, sebaiknya Anda menyimpannya di sumber informasi terpusat dan sering menjadikannya referensi, terutama selama tinjauan sprint.

Peran Scrum

Dalam Scrum, anggota tim ditugaskan untuk tiga peran spesifik: pemilik produk, master Scrum, dan tim Scrum. Peran ini digunakan untuk memberikan tugas tertentu kepada anggota tim. 

Pemilik produk

Ini adalah orang yang bertanggung jawab atas backlog produk. Mereka memahami kebutuhan pengguna dan fokus menceritakan stori kepada tim dan pemangku kepentingan eksekutif lainnya. Pemilik produk yang baik memberikan kejelasan tentang hal yang terpenting untuk diserahkan selanjutnya. Pada akhirnya, mereka harus menjadi orang yang memutuskan kapan sesuatu sudah siap dikirim (dengan bias harus sering-sering mengirim). 

Scrum master

Master Scrum adalah orang yang menjalankan berbagai acara Scrum. Anggaplah mereka sebagai manajer proyek dan fasilitator Scrum. Master Scrum harus memfasilitasi rapat standup harian dan mengadakan perencanaan, tinjauan, dan rapat retrospektif sprint. 

Tim Scrum

Tim Scrum adalah semua orang yang mengerjakan sprint. Anggota tim harus mengelola secara mandiri dan berkolaborasi untuk mencapai gol peningkatan berkelanjutan Scrum. 

6 prinsip Scrum

Scrum juga mengandalkan enam prinsip dasar untuk memastikan tim mempertahankan fokus dan menjaga proyek tetap sesuai rencana. Keenam prinsip tersebut adalah: 

  1. Kontrol atas proses empiris. Tim Scrum mendukung adanya transparansi, tinjauan, dan adaptasi.

  2. Kelola secara mandiri. Meskipun tim Scrum akan memiliki peran dan aturan, setiap anggota Scrum diberdayakan untuk bertanggung jawab atas Tugas dan pekerjaan mereka. Scrum yakin bahwa kepemilikan bersama menghasilkan tim yang lebih kreatif dan dinamis.

  3. Kolaborasi.Tim akan menyerahkan hasil terbaik jika Anda bekerja sama selama dan setelah sprint Scrum.

  4. Prioritas berbasis nilai. Gol dari sprint Scrum adalah menghasilkan nilai bisnis terbaik. Untuk melakukan itu, Anda harus memprioritaskan pekerjaan sejak awal proses Scrum.

  5. Pengotakan waktu. Proses Scrum memiliki berbagai aktivitas berbasis waktu, seperti sprint itu sendiri, rapat standup harian, dan retrospektif. Karena Scrum dijalankan berdasarkan pada peningkatan berkelanjutan, Anda harus mengatur waktu kerja agar dapat melanjutkan ke tugas berikutnya dan meningkatkan pekerjaan ke depannya.

  6. Pengembangan iteratif. Di Scrum, produk pertama tidak akan sempurna. Namun, dengan mengembangkan secara iteratif, tim Anda akan mampu menyesuaikan dengan kebutuhan pelanggan dan memodifikasi produk serta output berdasarkan prioritisasi berbasis nilai.

5 nilai Scrum

Untuk memperoleh manfaat dari Scrum, tim harus mengikuti lima nilai utama Scrum, seperti yang didefinisikan dalam Panduan Scrum:

  • Komitmen: Tim Scrum adalah satu kesatuan, dan anggota tim harus saling percaya. Anggota tim Scrum berkomitmen untuk mengerjakan sprint selama durasinya, dan berkomitmen untuk melakukan peningkatan berkelanjutan supaya menemukan solusi terbaik.

  • Keberanian: Selama Scrum, tim mungkin menghadapi masalah sulit dan tidak memiliki jawaban yang pasti. Tim Scrum harus berani untuk mengajukan pertanyaan yang sulit dan terbuka, serta menjawab dengan jujur supaya mendapatkan solusi terbaik.

  • Fokus: Selama sprint Scrum tertentu, tim Scrum akan bekerja dari backlog produk. Tim Scrum fokus pada pekerjaan yang dipilih dari backlog untuk mencapai hasil akhir di akhir sprint.

  • Keterbukaan: Tidak semuanya akan berjalan sempurna selama Scrum. Anggota tim Scrum harus terbuka terhadap ide dan peluang baru yang dapat membantu mereka belajar secara mandiri dan dapat membantu meningkatkan produk atau proses.

  • Menghargai: Kolaborasi merupakan kunci Scrum. Untuk mendukung kolaborasi tim, anggota tim harus menghormati satu sama lain, master Scrum, dan proses Scrum.

Apa perbedaan antara Scrum dan Agile?

Scrum merupakan salah satu metodologi Agile yang paling populer. Jika Anda menggunakan Scrum, Anda adalah Tim Agile. Akan tetapi, kerangka kerja Scrum memiliki peran dan sistem tambahan untuk membantu tim menjadi agile.

Tim Agile dan Scrum berupaya mencapai peningkatan berkelanjutan. Namun, tidak seperti Agile, yang lebih seperti filosofi atau kerangka kerja, Scrum menetapkan cara yang spesifik bagi tim untuk dapat terus meningkatkan, melalui alat seperti sprint, rapat standup, dan rapat retrospektif.

Kanban vs. Scrum

Meskipun Kerangka Kerja Kanban juga merupakan bagian dari Agile, seperti Scrum, kedua metodologi tersebut memiliki tujuan yang berbeda. 

Alat Kanban membantu tim memvisualisasikan pekerjaan yang berpindah dari satu tahap ke tahap lainnya hingga penyelesaian. Di sisi lain, Scrum berfokus pada bagian dari hasil akhir dalam waktu singkat, bukan seluruh proyek. Siklus Kanban juga berkelanjutan, sedangkan sprint Scrum biasanya hanya berlangsung satu hingga empat minggu. 

Tim yang menggunakan Scrum sering kali memvisualisasikan pekerjaan di Papan Kanban, tetapi hal itu bukanlah persyaratan kerangka kerja Scrum. Anda juga dapat menggabungkan metodologi Scrum dan Kanban ke dalam Scrumban.

[UI Produk Lama] Papan Kanban Tim untuk Scrum di Asana (Papan)

Haruskah Tim saya menggunakan Scrum?

Scrum bukan untuk semua orang, tetapi juga tidak hanya terbatas pada tim produk, pengembangan perangkat lunak, dan Teknik. Setiap tim dapat menerapkan kerangka kerja Scrum dan melakukan peningkatan berkelanjutan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Berikut beberapa kelebihan dan kekurangan menggunakan Scrum:

Manfaat metodologi Scrum

Scrum paling efektif untuk tim yang perlu sering mengembangkan dan mengirimkan sesuatu. Baik itu "produk" biasa seperti kode atau fitur baru, maupun "produk" Scrum yang lebih unik seperti kampanye pemasaran atau aset kreatif. Beberapa manfaat spesifik meliputi:

  • Mudah beradaptasi: Scrum dirancang untuk beradaptasi dengan pelajaran yang dipetik dari siklus sprint sebelumnya dan perubahan pasar. 

  • Ekspektasi yang jelas: Karena Kerangka Kerja Scrum menetapkan peran dan tanggung jawab tertentu untuk setiap anggota tim Scrum, tidak ada keraguan tentang hal yang harus dikerjakan oleh anggota tim tertentu selama sprint. 

  • Memprioritaskan ROI: Khususnya untuk tim pengembangan perangkat lunak, Scrum memprioritaskan tugas yang akan berdampak lebih signifikan pada ROI. Karena prosesnya dilakukan secara bertahap, perusahaan dapat merilis bagian yang lebih berdampak terlebih dahulu. 

  • Mengurangi risiko: Scrum mengurangi kemungkinan kesalahan signifikan dengan bekerja secara bertahap dan memperhitungkan umpan balik selama sprint. Dengan adanya struktur ini, kecil kemungkinan kesalahan akan luput. 

Batasan Scrum

Proyek Scrum sering kali mengalami scope creep karena proses Scrum mendukung dan mendorong perubahan. Jika terlalu banyak perubahan atau mendapatkan terlalu banyak umpan balik pelanggan yang tidak selaras, Anda mungkin mengulanginya berulang-ulang tanpa ada hasil yang nyata.

  • Solusi: Pastikan untuk secara jelas mendefinisikan tujuan dan peningkatan setiap sprint. Selain itu, pastikan seluruh Tim Scrum memahami definisi “Selesai” sehingga mereka tidak bekerja melebihi “Selesai". Jika perlu, terapkan proses kontrol perubahan untuk menghindari masalah ini.

Tim Scrum mengadakan banyak rapat. Selain perencanaan sprint dan tinjauan sprint yang dijadwalkan secara rutin, tim Scrum juga bertemu setiap harinya untuk rapat standup.

  • Solusi: Jika rapat Scrum harian tidak terasa membantu, temukan cara untuk mengubahnya. Izinkan anggota tim yang berbeda untuk memimpin rapat Scrum guna mendapatkan perspektif baru tentang proyek dan proses. 

Scrum bisa menjadi sulit (meskipun bukan tidak mungkin) untuk diterapkan jika Anda bukan bagian dari tim produk, teknis, atau pengembangan perangkat lunak.

  • Solusi: Jika tim Anda memutuskan menggunakan Scrum, pastikan untuk menjelaskan dengan jelas proses Scrum tersebut akan membantu Anda. Jika memungkinkan, identifikasi titik masalah saat ini dan selaraskan dengan acara Scrum yang dapat membantu. Selain itu, jadwalkan beberapa sesi pelatihan selama beberapa sprint Scrum pertama untuk membantu tim sukses.

Mulai menggunakan Scrum

Tim Scrum terbaik adalah grup kolaboratif dan iteratif yang memiliki kejelasan tentang pekerjaan yang dikerjakan untuk setiap sprint. Untuk melakukan itu, Anda memerlukan sumber informasi terpusat untuk pekerjaan, seperti Asana.

Kelola tim Agile dengan Asana

Sumber daya terkait

Artikel

Apa itu Work Graph® Asana?