11 gaya kepemimpinan umum (beserta cara menemukan gaya Anda sendiri)

Gambar kontributor tim AsanaTeam Asana1 Agustus 20229 menit baca
facebooktwitterlinkedin
Gaya kepemimpinan yang berdampak
Coba Asana

Ringkasan

Wajar jika kepribadian dan pengalaman memengaruhi gaya kepemimpinan Anda. Meski tidak ada satu cara yang tepat untuk memimpin, mengidentifikasi gaya kepemimpinan dapat membantu Anda untuk mengembangkan rangkaian keterampilan dan memberdayakan tim. Dalam artikel ini, kami menggambarkan 11 gaya kepemimpinan berbeda beserta pro dan kontranya dalam berbagai situasi.

Apa kesamaan Sheryl Sandberg, COO Facebook, dan Marvin Ellison, CEO Lowe’s? Mereka sama-sama pemimpin yang luar biasa. Sheryl melakukan perubahan dalam industri teknologi, sedangkan Marvin menerima tantangan di dunia ritel. Keduanya berpikiran maju, memiliki visi untuk pekerjaan mereka, dan cukup persuasif sehingga menarik perhatian audiens. 

Kepemimpinan itu beraneka ragam. Setiap pemimpin memiliki kepribadian dan pengalaman sendiri yang memengaruhi gaya uniknya. Gaya ini dapat berkembang seiring waktu, jadi gaya kepemimpinan Anda saat ini mungkin berbeda dengan yang akan datang. 

Untuk membantu memahami gaya kepemimpinan Anda saat ini dengan lebih baik dan cara menggunakannya untuk memberdayakan tim dalam menciptakan dampak, kami membahas 11 gaya dan teori kepemimpinan umum. 

Menerapkan gaya kepemimpinan

1. Kepemimpinan otoriter (otokratis)

Pemimpin otoriter, yang juga disebut otokratis, memiliki komando dan kontrol yang jelas atas bawahannya. Pengambilan keputusan bersifat terpusat, yang berarti hanya satu orang yang mengambil keputusan penting. Pemimpin otoriter memiliki visi yang jelas tentang gambaran besar, tetapi hanya melibatkan anggota lain dalam tim berdasarkan tugas atau kebutuhan. 

Teori kepemimpinan Lewin

Dalam hal pujian atau kritik, pemimpin otoriter akan memberikannya secara pribadi dan tidak di hadapan banyak orang. Anda mungkin menganggap pemimpin otoriter tidak menyenangkan, tetapi tidak selamanya begitu. Mereka jarang menunjukkan sikap tidak bersahabat. Sebaliknya, mereka biasanya ramah atau, kadang, tidak menunjukkan sifatnya. 

Pemimpin otoriter mungkin berkaitan dengan pernyataan ini:

  • Saya memprioritaskan pembelajaran saya sendiri daripada pembelajaran tim.

  • Dalam perbedaan pendapat di perusahaan, pendapat saya biasanya benar.

  • Jika terlalu banyak pendapat, kita tidak bisa menyelesaikan pekerjaan. 

  • Pada proyek yang menjadi tanggung jawab saya, saya mengabaikan mereka yang berbeda pendapat.

Pro kepemimpinan otoriter:

  • Kepemimpinan otoriter memiliki kemampuan untuk menyelesaikan proyek dalam desakan waktu. 

  • Gaya ini berguna saat tindakan tegas diperlukan.

  • Kepemimpinan otokratis akan berhasil ketika pemimpinnya adalah anggota yang paling berpengetahuan dalam grup.

Kontra kepemimpinan otoriter:

  • Gaya ini tidak mendorong kreativitas. 

  • Pemimpin dapat dipandang secara negatif dan dianggap angkuh atau mengekang.

  • Mengalami kesulitan mencoba gaya kepemimpinan lainnya dan biasanya keras kepala. 

2. Kepemimpinan partisipatif (demokratis)

Pemimpin partisipatif atau demokratis menerima pendapat semua orang dan mendorong kolaborasi. Sekalipun mereka yang memutuskan, pemimpin jenis ini mendistribusikan tanggung jawab dalam mengambil keputusan kepada semua orang.  

Pemimpin partisipatif adalah bagian dari tim. Mereka menghabiskan waktu dan energi untuk pertumbuhan kolega karena mereka tahu bahwa, pada akhirnya, hal tersebut membantu mencapai gol akhir. Jika mahir dalam lingkungan grup yang kolaboratif, ini mungkin gaya kepemimpinan Anda.

Pemimpin partisipatif mungkin berkaitan dengan pernyataan ini:

  • Memprioritaskan pembelajaran grup akan menguntungkan peran saya. 

  • Dalam perbedaan pendapat di perusahaan, kita harus mendengarkan opini semua orang, lalu mencari solusi. 

  • Semakin banyak orang yang kita miliki untuk menangani proyek, akan semakin baik hasilnya. 

  • Saya menerima mereka yang berbeda pendapat karena ini akan membuat produk akhir jadi lebih baik. 

Pro kepemimpinan partisipatif:

  • Menurut studi Lewin, ini gaya kepemimpinan paling efektif. 

  • Kepemimpinan partisipatif menghasilkan kontribusi dengan kualitas lebih tinggi. 

  • Ada lebih banyak kreativitas dan anggota grup merasa dilibatkan. 

  • Semua orang memahami gambaran umum dan termotivasi untuk mencapai gol akhir. 

Kontra kepemimpinan partisipatif:

  • Tim dengan pemimpin partisipatif tidak seproduktif tim dengan pemimpin otoriter.

  • Semua anggota tim harus satu suara agar kolaborasi berjalan 

Baca: Rahasia dinamika grup yang hebat

3. Kepemimpinan delegatif (laissez-faire)

Gaya ketiga Lewin adalah kepemimpinan delegatif atau laissez-faire. Pemimpin delegatif sangat jarang memandu grup. Mereka memungkinkan kebebasan mutlak bagi anggota tim dalam proses pengambilan keputusan.

Pemimpin delegatif memisahkan diri dari grup dan memilih untuk tidak berpartisipasi atau mengganggu perkembangan proyek. Mereka juga jarang berkomentar. Anggota grup bahkan mungkin lupa penampilan pemimpin ini saat mereka menyelesaikan proyek. 

Pemimpin laissez-faire mungkin berkaitan dengan pernyataan ini:

  • Grup dapat memutuskan apa yang terbaik untuk mereka, tetapi saya mengharapkan produk akhir yang luar biasa. 

  • Dalam perbedaan pendapat di perusahaan, anggota lain dapat mengambil keputusan tanpa masukan saya. 

  • Saya akan memberikan sumber daya kepada tim saya. Selanjutnya, saya ingin anggota grup yang memiliki inisiatif dan dapat menentukan cara melanjutkannya.

  • Mereka yang memiliki pendapat berbeda dapat mencoba metode mereka sendiri-sendiri. 

Pro kepemimpinan delegatif:

  • Kepemimpinan delegatif dapat bermanfaat jika semua anggota grup adalah pakar yang kompeten.

  • Di bawah kepemimpinan ini, mereka yang menghargai anatomi akan memiliki kepuasan kerja tinggi.

  • JIka gol tim dan pemimpin sama, gol tersebut dapat dicapai. Perangkat lunak pelacakan gol dapat digunakan untuk memantau progres.

Kontra kepemimpinan delegatif:

  • Menurut studi Lewin, tim dengan kepemimpinan laissez-faire adalah tim yang paling tidak produktif. 

  • Dengan kepemimpinan delegatif, peran dan tanggung jawab tidak jelas.

  • Gaya ini dapat menyebabkan anggota tim saling menyalahkan dan tidak bertanggung jawab.

Setelah memahami tiga gaya kepemimpinan Lewin, mari kita mengambil pendekatan lain dengan mempelajari teori kepemimpinan emosional.  Pendekatan ini akan membantu Anda menggunakan kecerdasan emosional untuk memahami pendapat serta sikap orang lain dan menerapkan gaya kepemimpinan yang benar. 

4. Kepemimpinan visioner

Kepemimpinan visioner mirip dengan gaya kepemimpinan otoriter Lewin. Pemimpin visioner memiliki visi jangka panjang yang jelas dan dapat menginspirasi serta memotivasi orang lain. 

Teori kepemimpinan emosional

Jenis kepemipinan ini paling cocok digunakan saat ada perubahan besar dalam perusahaan atau arahan jelas yang dibutuhkan. Dalam kasus ini, orang-orang membutuhkan seseorang yang tepercaya sebagai pemimpin mereka dalam menghadapi ketidakpastian. 

Kepemimpinan ini kurang berhasil jika anggota lain adalah pakar yang memiliki ide atau pendapat berbeda dari pemimpin. Anggota tim ini tidak akan mau mengikuti pemimpin yang berbeda pandangan dengan mereka begitu saja.

Baca: Cara membangun kekuatan keahlian (dan menjadi pemimpin yang lebih baik)

Pro kepemimpinan visioner:

  • Anggota organisasi merasa terinspirasi dan memahami peran mereka. 

  • Masalah sementara tidak membuat pemimpin ini berkecil hati karena mereka menarget tujuan akhir. 

  • Pemimpin visioner mahir dalam membuat rencana cadanganuntuk mengatasi tantangan faktor eksternal seperti politik atau peristiwa dunia.

Kontra kepemimpinan visioner:

  • Fokus jangka pendek tim kurang. 

  • Visi dapat tidak tercapai jika terlalu berkaitan dengan kepribadian pemimpin. 

  • Pemimpin visioner berpotensi menolak ide anggota grup lain. 

Baca: Grup vs. tim: Apa bedanya?

5. Kepemimpinan pembinaan

Pemimpin yang membina dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan anggota tim lain dan membina mereka agar menjadi lebih baik. Pemimpin ini juga dapat menghubungkan keterampilan tersebut dengan gol perusahaan.

Kepemimpinan pembinaan akan berhasil jika pemimpin kreatif, mau berkolaborasi, dan dapat memberikan umpan balik konkret. Pembina juga harus tahu kapan perlu berhenti sejenak dan memberi seseorang kebebasan bertindak. 

Jika pernah memiliki pembina yang buruk, Anda tahu bahwa tidak semua orang bisa membina. Saat dilakukan dengan buruk, kepemimpinan pembinaan dapat dianggap sebagai pengelolaan mikro. 

Pro kepemimpinan pembinaan:

  • Kepemimpinan pembinaan dapat menciptakan lingkungan yang memotivasi dan anggota grup senang menjadi bagian dari lingkungan tersebut.

  • Ekspektasi jelas, jadi keterampilan anggota tim dapat berkembang .

  • Gaya kepemimpinan ini memberi perusahaan keunggulan kompetitif karena menghasilkan individu terampil yang produktif dan mau membina orang lain.

Kontra kepemimpinan pembinaan:

  • Kepemimpinan pembinaan membutuhkan kesabaran dan waktu.

  • Kepemimpinan ini hanya berhasil jika orang lain mau menerima kepemimpinan semacam ini. 

  • Kepemimpinan pembinaan sangat bergantung pada hubungan yang mungkin sulit jika tidak ada interaksi tim yang erat. 

Baca: Teori Kontingensi Fiedler: Mengapa kepemimpinan tidak seragam

6. Kepemimpinan afiliasi

Kepemimpinan afiliasi fokus pada relasi. Pemimpin afiliasi bertujuan menciptakan keselarasan. Pemimpin karismatik ini berupaya membangun dan memupuk relasi di tempat kerja sehingga menghasilkan lingkungan kerja yang lebih kolaboratif dan positif. 

Pemimpin afiliasi berguna saat membuat tim baru atau ketika terjadi krisis karena kedua situasi ini membutuhkan kepercayaan. Gaya kepemimpinan ini dapat membahayakan saat pemimpin terlalu fokus menjadi teman dan kurang memedulikan produktivitas serta gol perusahaan. 

Pro pemimpin afiliasi:

Kontra pemimpin afiliasi:

  • Beberapa anggota tim dengan kinerja di bawah standar mungkin tidak terdeteksi. Kurangnya peran yang jelas dapat menyebabkan social loafing

  • Pemimpin afiliasi enggan mengatakan hal negatif yang tidak membantu perkembangan orang lain.

  • Gol organisasi kerap terlupakan. 

  • Anggota tim menjadi tergantung secara operasional pada pemimpin. Jika pemimpin akan pindah tim atau mundur dari jabatan, anggota tim akan hilang arah.

Baca: Kepemimpinan pengabdian: Cara memimpin dengan mengabdi kepada tim

7. Kepemimpinan demokratis

Konsep kepemimpinan demokratis sama dengan kepemimpinan partisipatif Lewin. Semua anggota tim didorong untuk berpartisipasi dan membagikan ide. Hasilnya, tim merasa diberdayakan, sekalipun pada akhirnya pemimpinlah yang mengambil keputusan. 

Kepemimpinan demokratis sangat cocok untuk tim dengan keterampilan tinggi di mana anggota dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat. Kepemimpinan ini kurang berdampak pada tim junior yang tidak memiliki banyak pengalaman atau pengetahuan tentang topik terkait. Gaya ini sebaiknya tidak digunakan dalam situasi yang memerlukan tindakan segera. 

Pro kepemimpinan demokratis:

  • Kolaborasi menghasilkan kreativitas dan inovasi.

  • Keterlibatan dan kepercayaan pegawai tinggi. 

  • Gol bersama menghasilkan akuntabilitas dan produktivitas tinggi.

Kontra pemimpin demokratis:

  • Kolaborasi membutuhkan waktu.

  • Anggota tim dapat kehilangan kepercayaan jika pemimpin mengambil tindakan tanpa umpan balik mereka. 

  • Kepemimpinan demokratis tidak akan berhasil jika anggota tim yang tidak memiliki keterampilan.

8. Kepemimpinan Pacesetting

Pemimpin pacesetting menentukan contoh produktivitas, kinerja, dan kualitas tinggi. Anggota tim diharapkan mengikuti jejak mereka. Jika anggota tim tidak bisa mengikuti, pemimpin pacesetting akan turun tangan dan menyelesaikan tugas dengan benar. 

Kepemimpinan pacesetting akan berhasil saat pemimpin membuat persyaratan yang jelas dan memotivasi anggota tim untuk memenuhi batas waktu. Kepemimpinan ini akan gagal saat anggota tim kehilangan kepercayaan kepada pemimpin dan stres, bekerja berlebihan, atau tidak termotivasi. 

Pro pemimpin pacesetting:

  • Pemimpin pacesetting mampu mencapai gol bisnis tepat waktu. 

  • Dengan pemimpin pacesetting, tim dapat bekerja sepenuhnya. 

  • Laporan progres memungkinkan isu diidentifikasi dengan cepat. 

Kontra pemimpin pacesetting:

  • Kepemimpinan pacesetting dapat menyebabkan anggota tim stres dan tidak termotivasi serta memiliki semangat kerja rendah. 

  • Anggota tim dapat kehilangan kepercayaan jika pemimpin mengawasi dan mengoreksi setiap langkah mereka.

  • Terlalu fokus pada hasil dan batas waktu dapat menyebabkan kreativitas berkurang. 

  • Umpan balik yang diberikan terbatas. 

9. Kepemimpinan kuasa

Kepemimpinan kuasa mirip dengan kepemimpinan perintah atau paksaan. Dalam gaya ini, pemimpin memiliki gol dan tujuan yang jelas yang dikomunikasikan kepada tim dan mengharapkan orang lain patuh. Mereka menerapkan prosedur serta kebijakan untuk menciptakan struktur. 

Kepemimpinan kuasa biasanya digunakan saat anggota tim lain tidak memiliki keterampilan atau keahlian. Dalam skenario ini, anggota membutuhkan struktur untuk mengetahui cara menyelesaikan tugas mereka. Kepemimpinan ini akan berhasil dalam situasi mendesak ketika tidak ada waktu untuk diskusi. Jika digunakan, gaya kepemimpinan ini sebaiknya dikombinasikan dengan gaya lain. 

Pro kepemimpinan kuasa:

  • Ada ekspektasi yang jelas yang dapat meningkatkan kinerja pekerjaan. 

  • Berguna saat masa-masa krisis karena keputusan dapat dibuat dengan cepat.

  • Kepemimpinan kuasa dapat bermanfaat dalam grup pekerja yang tidak terampil atau tidak berpengalaman.

  • Pemimpin kuasa dapat dengan cepat mendeteksi jika anggota tim tertinggal.

Kontra kepemimpinan kuasa:

  • Jika pemimpin tidak lebih berpengalaman dari grup, gaya kepemimpinan ini gagal. 

  • Tidak ada kolaborasi, dan ini menghambat kreativitas.

  • Semangat kerja tim dapat turun dan pegawai tidak begitu terlibat.

  • Terdapat ketergantungan tinggi pada pemimpin, menyebabkan hambatan

  • Pemimpin kuasa dapat dengan mudah berubah menjadi pemimpin otoriter.

Teori kepemimpinan emosional dapat diimplementasikan ke dalam pekerjaan sehari-hari Anda dengan mudah. Pertama, identifikasi jenis tim yang bekerja sama dengan Anda. Lalu, pertimbangkan gaya kepemimpinan yang paling mendukung tugas Anda. Selanjutnya, cobalah menyesuaikan gaya kepemimpinan emosional Anda dengan skenario yang muncul. Dengan sedikit latihan, teori ini dapat mengubah pendekatan kepemimpinan Anda.

Baca: Cara mengelola beban kerja tim Anda secara efektif

10. Kepemimpinan transformasional

Selain teori kepemimpinan Lewin dan teori kepemimpinan emosional, ada dua gaya kepemimpinan lain yang lebih penting: transformasional dan transaksional. 

Dua gaya ini didokumentasikan oleh Bernard M. Bass, psikolog Amerika yang mempelajari perilaku organisasi dan kepemimpinan. Sekalipun mungkin nama gaya ini terdengar asing, Anda kemungkinan besar sudah menerapkannya di tempat kerja. 

Kepemimpinan transformasional vs. transaksional

Teori paling populer Bernard M. Bass adalah kepemimpinan transformasional yang juga disebut sebagai empat I. Teori ini berlandaskan konsep James MacGregor Burns pada 1978 yang menjelaskan, “pemimpin dan anak buah saling membantu untuk mencapai level semangat kerja dan motivasi yang lebih tinggi.”  

Dalam gaya kepemimpinan ini, pemimpin transformasional secara efektif mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat dari orang lain yang ingin mengikuti mereka. Empat I dalam kepemimpinan transformasional adalah: individualized consideration (pertimbangan individu), intellectual stimulation (stimulasi intelektual), inspirational motivation (motivasi inspiratif), dan idealized influence (pengaruh ideal). Empat I ini digunakan untuk mengukur tingkat transformasional pemimpin. 

Pro kepemimpinan transformasional:

  • Pemimpin transformasional menggunakan pembinaan dan dorongan untuk memberdayakan tim mereka. 

  • Anggota tim dianggap sebagai individu, jadi semua keterampilan unik mereka dapat digunakan secara efektif. 

  • Tim bersatu dalam gerakan bersama yang menghasilkan pertumbuhan dalam perusahaan.

  • Individu diberi kebebasan. 

Kontra kepemimpinan transformasional:

  • Tugas-tugas yang lebih kecil mudah luput. Artinya, visi sulit direalisasikan.

  • Pemimpin yang terus terlibat dapat menyebabkan tekanan dan kelelahan bekerja. 

  • Gol pemimpin harus selaras dengan gol perusahaan agar tidak menimbulkan risiko. 

  • Semua anggota tim harus menghormati pemimpin dan menyetujui pendekatan mereka. 

11. Kepemimpinan transaksional

Gagasan kepemimpinan transaksional pertama kali dibentuk oleh sosiolog Max Weber. Gaya ini kemudian dielaborasi oleh Bernard M. Bass sebagai kontra dari kepemimpinan transformasional. 

Kepemimpinan transaksional menggunakan hadiah dan hukuman untuk memotivasi anggota tim. Pemimpin semacam ini meyakini bahwa rantai komando yang jelas akan menghasilkan kinerja yang lebih baik. Anggota tim harus mematuhi instruksi dan terus dipantau pemimpin. 

Pro kepemimpinan transaksional:

  • Kepemimpinan transaksional berguna dalam situasi dengan masalah yang dengan jelas. 

  • Gaya kepemimpinan ini dapat berguna dalam krisis karena semua orang memiliki peran yang jelas.

  • Anggota grup mengetahui apa yang diharapkan dari mereka.  

Kontra kepemimpinan transaksional:

  • Gaya kepemimpinan transaksional menghambat kreativitas anggota tim. 

  • Pemimpin transaksional tidak mendukung kebutuhan emosional anggota tim. 

  • Pemimpin jenis ini tidak mengapresiasi inisiatif individu. 

  • Peran kepemimpinan ini biasanya tidak memiliki kesuksesan jangka panjang karena terlalu fokus pada gol jangka pendek

Baca: 6 kiat membangun budaya organisasi yang kuat menurut para pemimpin Asana

Kepemimpinan vs. manajemen

Kepemimpinan dan manajemen sering digunakan secara bergantian. Namun, keduanya memiliki makna berbeda.

Pemimpin menggunakan visi mereka untuk memajukan perusahaan sambil membuat tim selalu terinspirasi. Mereka juga memiliki pengaruh sosial dan dapat menggunakannya untuk menguntungkan organisasi. Di sisi lain, manajer memiliki peran operasional dalam perusahaan untuk menjaga proyek tetap sesuai rencana menggunakan gaya manajemen tertentu.

quotation mark
Manajemen itu operasional. Ini berarti menentukan prioritas, mengevaluasi prioritas, keputusan perekrutan dan pemecatan, keputusan kompensasi, dan hal-hal serupa. Pemimpin lebih berperan sebagai pembina, atau bahkan pemandu spiritual. Dia bertanggung jawab mempertahankan energi, membuat semua orang di tim selalu terinspirasi dan membantu mereka berkembang, serta memastikan semua orang selaras dalam arah yang sama. Pemimpin harus menjadi titik kekuatan dan stabilitas di seluruh perubahan.”
Dustin Moskovitz, rekan pendiri dan CEO, Asana

Untuk menjadi pemimpin, Anda tidak perlu menjadi manajer. Pemimpin dapat ditemukan di setiap peran dalam perusahaan, tidak hanya jabatan tingkat atas. Jika berupaya menjadi pemimpin yang lebih baik dalam peran Anda, ada baiknya untuk memahami pro dan kontra gaya kepemimpinan saat ini dan jenis kepemimpinan tambahan yang dapat diwujudkan. 

Selanjutnya, kita akan membahas berbagai gaya dan teori kepemimpinan untuk membantu memahami gaya Anda dengan lebih baik. Anda bahkan dapat menerapkan beberapa strategi baru sepanjang prosesnya.

Baca: Kepemimpinan vs manajemen: Apa bedanya?

Apa gaya kepemimpinan Anda?

Seperti yang dapat dilihat, ada banyak teori kepemimpinan dan pendapat tentang kepemimpinan yang berbeda. 

Teori Lewin membagi pemimpin ke dalam tiga kategori, dengan partisipatif menjadi yang paling efektif. Teori kepemimpinan emosional menawarkan enam gaya kepemimpinan yang akan diterapkan pemimpin efektif pada waktu yang berbeda, tergantung situasi. Bass memberi kita dua gaya yang berlawanan—transformasional dan transaksional—salah satunya memotivasi dengan memberdayakan orang lain, sedangkan yang lain memotivasi dengan hadiah dan hukuman.  

Tidak ada satu gaya kepemimpinan yang tepat, tetapi ada gaya yang mungkin Anda sukai secara natural. Mana gaya yang paling Anda pahami? Apa gaya default Anda? Pahami pro dan kontranya sehingga Anda dapat menjadi pemimpin yang memberdayakan tim untuk berkembang. Jika kesulitan memimpin dengan metode saat ini, pertimbangkan untuk mencoba pendekatan kepemimpinan baru. 

Baca: 39 kutipan bisnis untuk memberdayakan tim Anda

Berdayakan tim dengan gaya kepemimpinan yang efektif

Gaya kepemimpinan adalah klasifikasi tentang cara Anda mempraktikkan keterampilan kepemimpinan. Seperti yang kita tahu, pemimpin memiliki banyak kekuatan. Mereka menghabiskan berhari-hari untuk berbagai tanggung jawab, mulai memotivasi orang lain dan berpikir kreatif hingga menyelesaikan masalah dan mengambil risiko. Tapi, tidak ada pemimpin yang sama. Cara pemimpin menangani set tugas yang sama sangat berbeda dari pemimpin lainnya.

Pemimpin bertugas memastikan tim memenuhi gol organisasi. Perangkat lunak manajemen kerja akan membantu memastikan tim satu pemahaman, terlepas dari tempat Anda memimpin mereka. 

Coba Asana untuk manajemen kerja

Sumber daya terkait

Artikel

Why 1:1 meetings are crucial to your team’s success