Apa itu AI yang berpusat pada manusia? Pendekatan kritis dan empatik terhadap teknologi

Headshot kontributor Alicia RaeburnAlicia Raeburn
13 Oktober 2025
2 menit baca
facebookx-twitterlinkedin
What is human centric ai article banner image
Cek Templat
Tonton demo

Dalam persaingan untuk menerapkan alat AI baru dan mutakhir, banyak organisasi mengabaikan komponen penting—manusia yang menggunakannya. 

Untuk mendapatkan hasil maksimal dari AI, pegawai harus dapat berinteraksi dengannya terlebih dahulu. Konsep ini adalah apa yang kami sebut "AI yang berpusat pada manusia"—gagasan bahwa AI harus menjadi mitra bagi pegawai, bukan pengganti. Untuk lebih memahami AI yang berpusat pada manusia, Work Innovation Lab Asana mensurvei lebih dari 4.500 individu di berbagai peran di AS dan Inggris untuk melihat cara organisasi menavigasi adopsi AI. 

Temuan menunjukkan bahwa beberapa tingkat organisasi—seperti eksekutif—lebih terlibat dengan AI daripada yang lain. Ini menggarisbawahi perlunya pendekatan yang berpusat pada manusia untuk mempersempit kesenjangan keterlibatan dan mendorong pegawai dari semua tingkatan untuk bermitra dengan AI.

Apa itu AI yang berpusat pada manusia?

Gagasan di balik AI yang berpusat pada manusia itu sederhana: teknologi harus meningkatkan, bukan menggantikan, kemampuan alami manusia. Dengan cara ini, organisasi dapat menggunakan AI untuk meningkatkan kemampuan manusia yang melekat pada diri Anda. Ketika organisasi mengganti orang dengan AI, mereka memiliki hasil yang lebih lemah dan menghasilkan pekerjaan dengan nilai lebih rendah. Namun, ketika orang bekerja dengan AI, hasilnya justru sebaliknya. Hasilnya, Anda dapat mendukung pengambilan keputusan manusia, memperkaya interaksi, dan mendorong hasil yang berarti.

Penerapan AI: Keseimbangan kepercayaan dan inovasi

Seiring dengan berkembangnya penggunaan AI, sangat penting untuk mengambil pendekatan yang berpusat pada manusia dalam adopsi AI. AI yang berpusat pada manusia menciptakan keseimbangan—makin banyak Partner SDM yang menggunakan AI, makin baik hasilnya. Dan dengan hasil yang lebih baik, lebih banyak orang akan menggunakan dan memercayai AI. 

Riset dari The Work Innovation Lab menunjukkan bahwa para eksekutif memimpin penggunaan AI, dengan lebih dari setengah (52%) menggunakan AI setiap minggu, dibandingkan dengan hanya 36% dari tenaga kerja yang lebih luas. Ini menunjukkan bahwa para pemimpin lebih sadar tentang cara AI dapat meningkatkan pengambilan keputusan dan mendorong inovasi, tetapi tingkat peran lainnya tertinggal. Dengan membingkai ulang AI sebagai mitra, bukan pengganti kreativitas manusia, para eksekutif dapat mendorong lebih banyak pegawai untuk menggunakan AI. 

Pegawai sudah menemukan cara praktis untuk berinteraksi dengan AI, dan pendekatan yang berpusat pada manusia dapat membantu memperluas penggunaan AI untuk mendorong peningkatan produktivitas lebih lanjut. Menurut riset kami:

  • 30% pegawai menggunakan AI untuk analisis data guna membuat formulir wawasan yang dapat ditindaklanjuti.

  • 25% pegawai memanfaatkan AI untuk menangani tugas administratif, sehingga memiliki waktu untuk pekerjaan yang lebih strategis.

Pendekatan yang berpusat pada manusia diperlukan agar AI menjadi hal yang umum dalam operasi organisasi. Dengan menumbuhkan hubungan timbal balik antara individu dan AI, Anda dapat mencapai hasil yang lebih baik, mendorong lebih banyak kepercayaan dan penggunaan AI lebih lanjut di antara tenaga kerja.

AI yang berpusat pada manusia: Keputusan yang lebih baik, pelanggan yang lebih bahagia

Ketika organisasi memadukan AI yang berpusat pada manusia ke dalam operasi sehari-hari, riset dari The Work Innovation Lab menunjukkan bahwa dampaknya meluas ke seluruh pengambilan keputusan, interaksi pelanggan, dan efisiensi operasional.

  • Pengambilan keputusan yang lebih baik: 52% pekerja intelektual melihat AI sebagai pengaruh positif pada pekerjaan mereka, yang menunjukkan peralihan ke arah pengambilan keputusan yang lebih tepat. Dengan menggunakan AI untuk menganalisis data, pegawai dapat membuat keputusan yang lebih akurat dan tepat waktu, yang selanjutnya dapat menghasilkan peningkatan pada hasil bisnis.

  • Peningkatan interaksi pelanggan: Dengan 36% pekerja intelektual yang menggunakan AI setiap minggu, ada peluang besar untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. Misalnya, AI dapat mengotomatiskan pertanyaan rutin pelanggan, memungkinkan pegawai manusia untuk berfokus pada interaksi yang lebih kompleks dan dipersonalisasi. Fokus itu menghasilkan peningkatan kepuasan pelanggan dan hubungan yang lebih kuat.

  • Peningkatan efisiensi: Hampir sepertiga (29%) pegawai khawatir tentang penggantian pekerjaan oleh AI. Ini menyoroti perlunya membedakan antara hal yang dapat diotomatisasi AI dan hal yang memerlukan sentuhan manusia. Dengan mengotomatiskan tugas berulang, AI membebaskan pegawai untuk berfokus pada aspek peran mereka yang lebih strategis dan kreatif. Ini mengarah pada efisiensi dan kepuasan kerja yang lebih tinggi.

AI yang berpusat pada manusia mendorong lingkungan kolaboratif tempat manusia dan AI bekerja sama untuk mencapai gol bersama. Ini menekankan penggunaan AI yang etis, menumbuhkan kepercayaan dan transparansi dalam interaksi digital. 

Memprioritaskan orang dalam penggunaan AI

Perjalanan menuju AI yang berpusat pada manusia adalah upaya kolektif, yang membutuhkan pendekatan yang seimbang terhadap teknologi dan pemahaman yang lebih dalam tentang nilai-nilai dan kebutuhan manusia. Ketika organisasi bergerak maju di era digital ini, menanamkan strategi AI dalam prinsip yang berpusat pada manusia akan menumbuhkan interaksi yang berarti dan mendorong bisnis menuju masa depan yang lebih inovatif.

Bekerja lebih cerdas dengan AI atau Anda akan tertinggal

Memahami AI dimulai dengan fakta. Baca pedoman AI lengkap kami untuk mengetahui penelitian mutakhir tentang cara organisasi dengan kinerja terbaik memanfaatkan AI untuk meningkatkan kesuksesannya.

Dapatkan wawasan
Bekerja lebih cerdas dengan AI atau Anda akan tertinggal

Sumber daya terkait

Webinar

AI di tempat kerja: Cara praktis mulai menggunakan AI